Pasar Modal Merespons Negatif Susunan Kabinet Jokowi Amin

Presiden Joko Widodo atau Jokowi didampingi Wakil Presiden Ma'ruf Amin foto bersama para menteri Kabinet Indonesia Maju usai memperkenalkan mereka di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Kabinet Indonesia Maju akan membantu Jokowi-Ma'ruf pada periode 2019-2024. (Liputan6.com/AnggaYuniar)
inidata.id - Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menyatakan, pasar modal merespons negatif susunan Kabinet Indonesia Maju atau Kabinet Jokowi Amin.
Dia kecewa dengan komposisi menteri bidang perekonomian dengan Airlangga Hartarto yang didapuk sebagai Menteri Koordinator Perekonomian mengganti Darmin Nasution.

"Saya kira pak Darmin Nasution lebih paham kebijakan makro ekonomi dibandingkan Airlangga Hartarto. Jadi, ini penurunan kualitas kabinet di tengah tantangan resesi ekonomi di depan mata," kata Bhima Yudhistira Adhinegara di Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019.

Dia menjabarkan, tidak lama setelah Jokowi mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Maju, IHSG turun 0,4 persen menjadi 6.207 dan nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah tipis ke angka 14.060 atau depresiasi 0,14 persen.

Menurut dia, dana asing lari dalam bentuk nett sells di pasar modal sebesar Rp 121 miliar. Kondisi tersebut menunjukan pelaku pasar modal kecewa terhadap pos strategis di bidang ekonomi yang diduduki sosok kurang pas.

"Misalnya, menko perekonomian. Idealnya memang bukan politisi karena pos menko sangat strategis. Lagi pula, kinerja Pak Airlangga Hartarto di kementerian perindustrian bisa dibilang jauh dari harapan. Misalnya, deindustrialisasi prematur terus berlanjut  dan Pak Airlangga gagal menahan laju deindustrialisasi," kata Bhima Yudhistira Adhinegara.

Dia menjelaskan, pada 2015 kuartal II, share manufaktur terhadap PDB sebesar 20,8 persen kemudian tahun 2019 kuartal yang sama turun ke 19,5 persen. Laju pertumbuhan manufaktur pun 3,54 persen, jauh di bawah pertumbuhan ekonomi yakni 5,05 persen.

Menurut dia, dengan komposisi kabinet sekarang, upaya-upaya pertumbuhan ekonomi agar tidak jatuh di bawah 5 persen sangat berat

"Apalagi tahun depan sinyal resesi global semakin kuat. Jadi, saya tidak menaruh harapan ekonomi akan tumbuh sampai 5,3 persen. Usaha yang harus dilakukan adalah menjaga jangan drop di bawah 5 persen. Caranya dengan jaga daya beli masyarakat dengan perhitungkan kembali dampak pencabutan subsidi energi BBM, listrik, dan kenaikan tarif seperti iuran BPJS Kesehatan," ujar Bhima Yudhistira Adhinegara dikutip dari pikiran-rakyat.com.

Soal peningkatan nilai ekspor, menurut Bhima, kuncinya adalah perluasan pasar ke negara nontradisional, peningkatan daya saing produk, dan peningkatan kontribusi UMKM dalam ekspor. Pemerintah harus meningkatkan terus serapan tenaga kerja khususnya ke sektor formal.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter