Aksi Damai ke Balai Kota Semarang

Tak ingin Semarang tenggelam dan krisis air
inidata.id - Puluhan warga Semarang, Jawa Tengah, tua,  muda,  dan anak-anak berkerumum di Taman Tugu Muda pagi itu. Kemudian mereka dengan tertib membentuk barisan.

Sebuah pasukan  dengan bando pita kuning melilit di kepala,berbagai pamlet tentang pentingnya pelestarian lingkungan masing-masing digenggaman  tangan, dan sebagian lagi membentang  spanduk  di bawah komando korlap Hesti dari Jaringan Peduli Iklim dan Alam mereka bergerak longmarch melancarkan aksi #JedaUntukIklim (climate strike).

Dengan menyanyikan  lagu-lagu  dan meneriakkan yel-yel pentingnya  melawan pemanasan global yang mengancam kehidupan dengan tertib menyusuri jalan Pemuda menuju Balai Kota untuk bertemu Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.

Sesampainya di depan pintu gerbang Balai Kota Semarang, mereka beraksi dengan tertib  membentuk barisan menghadap jalan pemuda sambil terus bernyanyi. “Kita akan melakukan aksi diam selama 30 menit,” ujar Hesti memberi komando.

Setelah  aksi diam usai, Koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam, Ellen Nugroho, mulai berorasi, tak ada waktu bersantai, pasalnya, menurut International Panel on Climate Change (IPCC), tinggal tersisa sekitar sepuluh tahun lagi untuk menentukan apakah kita bisa mencegah suhu Bumi tidak naik melampaui 1,5⁰C dibanding masa pra-industri.

“Jadi batasnya tahun 2030, apabila batas itu terlewati, umat manusia akan terseret dalam pusaran bencana alam yang sulit dihentikan lagi. Partisipasi semua pihak dibutuhkan, sebab saat ini kenaikan suhu global sudah sekitar 1,1⁰C,” ujar Ellen mengingatkan.
Kemudian aksi damai, dilanjutkan dengan pentas teatrikal anak-anak komunitas @cmidsemarang  yang mengisahkan tentang sebatang pohon dan kehidupan. 

“Sebutir biji tumbuh menjadi tunas, lalu menjadi pohon yang rindang dan bahagia. Tapi manusia rakus menebangnya sehingga pohon itu mati. Kualitas lingkungan memburuk dan makhluk-makhluk lain ikut mati juga. Tetapi hal itu, bisa kita atasi bersama kalau semua mau berperan menjaga lingkungan,” ujar Ellen yang bertindak seabagai narator berkisah.

Diterima Pemerintah Kota Semarang

Setelah beberapa waktu aksi damai berjalan beberapa  perwakilan anak-anak yang kan menyerahkan surat kepada Walikota  diterima. Dengan didampingi Ellen Nugroho dan Setiawan Budi mereka ditemui  oleh Kepala Badan Kesbangpol Kota Semarang Abdul Haris dan Kepala Dinas Lingkungna Hidup Kota Semarang Sapto Adi Sugihartono mewakili Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.

Berkat surat dari anak-anak yang isinya mengingatkan pemerintah kota Semarang untuk melakukan tindakan nyata dalam menghadapi krisi lingkungan ini diserahkan oleh Vima mewakili anak-anak lainnya kepada Kepala Kesbangpol.

“Surat ini saya terima kan saya sampaikan kepada bapak walikota Hendrar Prihadi. Karena ini masukan dari masyarakat, yang berakitan dengan ormas  yang menerima dari instansi Kesbangpol. Saya sangat mengapresiasi masukan ini demi kota Semarang yang bersama kita cintai,” ujar Haris.
Sementara pada kesempatan  itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang Drs. Sapto Adi Sugihartono, MM mengatakan, pemerintah kota Semarang untuk menghadapi ancaman krisis ini, juga sudah melakukan beberapa aksi. “Beberapa waktu lalu kami bersama Kodim menanam seribu pohon. Nanti pada 7 Desember 2019, akan ditanam 50ribu pohon secara serentak di 16 Kecamatan yang ada di Kota Semarang. Kalau mau ikut bergabung silahkan,” ujar Sapto Adi

Selain itu, kata Sapto Adi, Pemerintah Kota Semarang untuk mengurangi pencemaran lingkungan  juga menggalakkan transportasi massal berupa BRT dan ini akan terus dikembangkan dengan melengkapi feedernya.

“Mudah-mudahan tahun depan di Taman-taman Kota Semarang  akan dipasang misty  fan atau kipas angin uap ,untuk mengurangi suhu panas,” kata Sapto. (Teks dan foto: Ko Chris Tian)


Related Posts

1 komentar

  1. Pasang kincir angin di tepi sungai dan laut seperti di Belanda untuk mengeringkan laut, jangan di atas toko roti! Dan jangan keliru memaknai kata "polder". Polder adalah daratan yang dimenangkan kembali dari laut, bukan kolam air! Semangat, Ellen Kristi!

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter