loading...
loading...

Dugaan Pungutan Liar di Grapari Telkomsel Pettarani Hasil Pemantauan ACC Sulawesi

inidata.id - Telkomsel adalah salah satu BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang bertugas untuk memberikan layanan telekomunikasi kepada masyarakat. Telkomsel memiliki peran penting untuk membangun infrastruktur jaringan yang merata di Indonesia guna memudahkan masyarakat dalam melakukan komunikasi.

Dalam perjalanannya Telkomsel menghadirkan GRAPARI untuk membantu pengguna kartu telkomsel baik itu untuk isi pulsa, bantuan registrasi, Link AJA, penggantian kartu hilang/rusak dll.

Berdasarkan pemantauan yang kami lakukan, ada dugaan pungutan liar pada pelayanan GRAPARI Pettarani Makassar dengan kronologi kejadian sebagai berikut:

Untuk penggantian kartu hilang masyarakat dikenakan biaya Rp50.000 (lima puluh ribu rupiah), biaya tersebut terhitung sangat mahal, sebagai gambaran kartu perdana baru telkomsel yang dijual saja berkisar Rp10.000-Rp20.000.

Dasar penetapan biaya tersebut tidak jelas dasar aturannya. Pak Said dan Bu Putri (keduanya Tim Leader) menjelaskan bahwa memang benar ada biaya Rp.50.000 (lima puluh ribu) tersebut untuk penggantian kartu yang hilang/rusak, namun ketika ditanya dasar pengenaan tarif tersebut Pak Said mengelak dengan alasan RAHASIA PERUSAHAAN.

Setelah dijelaskan bahwa Telkomsel ini adalah salah satu BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan termasuk badan publik dalam UU No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Dalam pasal 1 angka 3 dijelaskan bahwa Badan Publik adalah lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan badan lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara, yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, atau organisasi nonpemerintah sepanjang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri.

Sehingga Telkomsel wajib memberikan infomasi kepada masyarakat apabila diminta, apalagi informasi tersebut berkaitan langsung pelayanan terhadap masyarakat. Namun Pak Said tetap ngotot tidak dapat memberitahukan dasar aturan biaya tersebut dan mempersilahkan saya untuk menempuh jalur hukum. Lalu saya meninggalkan mereka untuk kembali mengurus kartu di CS.

Benar saja saat di CS diminta membayar Rp50.000 (lima puluh ribu) untuk penggantian kartu, namun anehnya pembayaran tersebut harus Cash/Tunai di kasir GRAPARI. Padahal di kasir GRAPARI terdapat berbagai mesin EDC milik Bank BUMN, namun tidak bisa digunakan dengan alasan khusus penggantian kartu pembayarannya harus CASH/TUNAI. Setelah membayar pun hanya mendapatkan bukti pembayaran yang ditulis tangan (terlampir), BUKAN kwitansi/struk pembayaran seperti biasanya yang di print.

Kesimpulan

Telkomsel telah merampas Hak Publik untuk mendapatkan Informasi sebagaimana telah diatur dalam UU No. 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik. Telkomsel telah menarik biaya terhadap Pelanggan Tanpa Dasar Aturan Yang Jelas (ketika diminta Pak Said tidak memberitahukan dengan alasan rahasia perusahaan) dan ini mengarah kepada pungutan liar.

Telkomsel tidak dapat memberikan layanan yang terbaik terhadap masyarakat khususnya pengguna Kartu Telkomsel, sekelas Tim Leader (Pak Said dan Bu Putri) TIDAK PAHAM akan kewajiban memberikan informasi terhadap pelanggan.

ACC Sulawesi sebagai lembaga yang concern pada pencegahan dan pemberantasan korupsi akan memantau dan mengawal kasus ini

Rekomendasi

Telkomsel harus mengusut tuntas dugaan pungutan liar ini dan jika terbukti harus diproses sesuai hukum. Telkomsel harus memberi sanksi terhadap pegawainya yang tidak profesional dalam menjalankan tugasnya yaitu menutup akses masyarakat untuk mendapatkan informasi dengan alasan mengada-ada. Pimpinan Telkomsel harus menjalankan perusahaan dengan baik, transparan dan akuntabel.

Demikianlah press release ini dibuat agar menjadi perhatian bagi pimpinan Telkomsel dalam meningkatkan pelayanan terhadap publik dan besar harapan kami telkomsel dapat lebih baik lagi kedepannya. (Peneliti ACC Sulawesi, Anggareksa PS)

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter