Hati-hati Investasi Bodong

inidata.id - Bos Millenium Grup, Lim Chong Peng alias Tahir Ferdian di sidang di Pengadilan Negeri Batam, Tahir di sidang atas kasus Penyalahgunaan wewenang perusahaan Taindo Citra tama. Andrey Widjaya asal Surabaya Korban Investasi bodong mengetahui bos Milinium grup sedang menjalani sidang di Batam dan menjadi tahanan Kota  di Pengadilan Negeri Batam.

Oleh karena itu  ia mendapatkan informasi dari Jadwal Sidang Pengadilan Negeri (PN) Batam kemudian melakukan pengejaran  ke Batam untuk menagihnya uang yang telah di investasikannya.

" Ada sekitar 961  investor di seluruh Indonesia  dijanjikan   10 persen laba untung," kata Andrey di PN  Batam, Selasa (5/11/2019).

Ia mengaku sudah investasi di salah satu perusahaan miliknya Lim Chong Peng  sebesar Rp2,15 miliar selama tiga tahun, dan tak kunjung mendapat hasil.

Untuk perusaah di bidang Skuritas keuangan milik Taher Febian alis Lim Chong Peng  tidak terdapat di OJK (Otoritas Jasa Ke uanga). Ada sekitar triliunan rupiah dari 961 investor yang telah digelapkannya.

Menurut korban Bos Milineum Grup sulit untuk ditemui hingga saat ini bahkan sudah didemonya, hingga kini  sudah melaporkan dari 7 kepolisian tingkat daerah (Polda).

Awalnya ia mengaku tergiur atas pemaparan dan persentasinya atas keuntungan berinvestasi  selain itu juga memperlihatkan  salah satu perusaanya dia yang terdapat di Bursa Efek.

Sementara itu bos Milinium Grup Lim Chong Peng alias Taher Pebian saat diteriakin untuk mengembalikan uang korban ia mengelak dan tidak mengetahui.

" Ya terserah dia, saya tidak urusan," kata Taher usai menjalani sidangnya di PN Batam.

Tahir Ferdian sendiri didakwa telah kasus ini terus bergulir ke persidangan dan diketahui terdakwa Tahir merupakan Komisaris PT Taindo Citratama yang berlokasi di  Batam.

Berdasarkan atas  proses persidangan, Tahir memiliki saham sebesar 50 persen diperusahaan yang bergerak di bidang daur plastik di Sekupang tersebut. 50 persennya lagi milik Ludjianto Taslim, selaku Direktur Utama PT Taindo Citratama.

Dalam dakwaan jaksa, Tahir menjual aset berupa lahan, bangunan dan peralatan produksi tanpa melalui RUPS. Sehingga diperkirakan kerugian yang dialami berkisar Rp25,77 miliar.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter