ID Card Tertukar

Oleh: Ranaditya Dwi Rizki Rizaldi
inidata.id - Nama lengkap saya, Ranaditya Dwi Rizki Rizaldi. Saya adalah mahasiswa Fuad IAIN Pontianak Prodi Psikologi Islam. Hari Sabtu dan Minggu 9-10 November 2019 ada acara yaitu pelatihan jurnalistik tingkat dasar yang diadakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Warta IAIN Pontianak, Kalimantan Barat.

Pelatihan jurnalistik tingkat dasar diikuti oleh para calon jurnalis kampus sebelum masuk ke jurnalis camp. Dan saya berkesmpatan mengikuti. Saya mulai menyiapkan peralatan yang harus dibawa mulai hari Jumat. Perlengkapannya seperti baju, alat mandi, obat obatan dan lainnya. Hari Sabtu saya mempersiapkan sisanya karena saat hari Jumat belum semuanya dipersiapkan.
               
Pukul 15:30 WIB, para cawan atau calon anggota sudah harus hadir di ruangan kelas J 108 Fakultas Syariah IAIN Pontianak.  Saat itu saya telat datang, karena saya bersama teman saya menginap di rumahnya yang memakan waktu mulai dari persiapan saya lalu kedua teman saya.

Kami telat datang sekitar 10 menit, tiba di sana acara sudah dimulai dan sedang bernyanyi lagu Indonesia raya. Kami bertiga langsung masuk dan ikut menyanyikan lagu Indonesia raya. Setelah itu kami duduk lalu seiring berjalannya acara panitia memberikan ID Card kepada kedua teman saya tetapi saya tidak dikasihkan. Saya tidak terlalu memikirkan kenapa tidak dikasih ID Card tetapi ternyata saya menjadi orang yang membuka acara bersama teman saya. Kami dipakekan ID Card oleh panitia sebagai tanda acara PJTD dimulai.
               
Semuanya bertepuk dan tangan. Lalu kami berdua duduk, dan yang benar saja ID card saya tertukar
oleh teman saya. Saya memakai ID Card dia lalu dengan cepat saya menukarnya kembali. Acara terus berlanjut kemudian pukul 16:00 WIB pemateri datang.
Pemateri yaitu Hariyanto. Beliau adalah alumni dari program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Pontianak. Dan sekarang, ia bekerja sebagai redaktur di Tribun Pontianak.  Beliau berbagi ilmunya kepada kami yaitu seputaran jurnalistik, mulai dari apa itu berita, cara menulis berita, menyusun berita yang baik dan benar dan sebagainya.

Banyak sekali ilmu yang beliau kasih kepada saya dan teman teman saya tentang apa itu jurnalistik. Waktu sudah menujukkan jam 5 sore dan waktu pemateri hampir habis. Jadi kami diberikan kesempatan untuk bertanya.

Saya bertanya tentang etika saat mewawancarai orang itu bagaimana, adapun beliau menjawab etika mewawancarai seseorang itu kita harus tahu namanya dan tidak boleh bertanya namanya siapa jika orang itu adalah orang penting, lain hal jika orang itu adalah warga biasa. Lalu berpakaian formal rapih dan sebagainya.
 Pukul 17:10 WIB pemateri meninggalkan ruangan dan sebelum beliau meninggalkan ruangan kami dikasih tugas, tugasnya adalah membuat berita tentang PJTD ini. Saya menyusung berita tentang PJTD tahun 2019 menginap, bagi yang beritanya bagus akan beliau terbitkan di Tribun Pontianak.

Saya bersemangat membuat beritanya. Sarena saya sadar tulisan kita diangkat di Tribun Pontianak adalah hal yang tidak mudah. Kami dikasih waktu sekitar 30 menit untuk menulis beritanya dan bertanya kepada panitia jika ada yang ingin ditanyakan sebelum Azan Maghrib berkumandang.

Tetapi tidak lama kemudian kami disuruh Ketua Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) WARTA IAIN Pontianak, Indah Chandika Anisyavira, untuk menulis harapan, keluhan, dan tawaran. Saya menulisnya seperlunya saja seperti keluhan dan tawaran saya tulis ruangan kelasnya panas dan kalau bisa ada kipas angin.
Azan Maghrib berkumandang. Tidak lama kemudian lalu saya dan teman teman saya pergi ke Masjid untuk salat. Selesai alat kami balik ke ruangan kelas untuk bersalawat memperingati Maulid Nabi SAW.

Kami juga disediakan makanan berupa buah buahan seperti manga, semangka,  dan apel. Enaklah pokoknya. Selesai bersalawat kami memakan buah buahnya. Lalu setelah itu salat Isya dan selesai salat Isya kami akan pergi ke warung kopi untuk menemui pemateri selanjutnya.

Kami semua berangkat bareng dan lokasi warung kopi tidak jauh dari lokasi kampus kami. Sesampai di sana kami bertemu dengan pemateri. Banyak pemateri ini menyampaikan sekitar jam 19:30 dan sampe 21:00.
Materi yang dibawakan oleh beliau tidak hanya tentang jurnalistik tetapi juga materi tentang kita yang sudah menjadi mahasiswa yang berbeda dengan siswa. Kita sebagai mahasiswa harus berpikir kritis.

Beliau juga membawa materi tentang persoalan era kekinian. Di sana kami diberikan materi sambil meminum teh, kopi. Di sana lebih terasa kami diberikan materi daripada berdiskusi karena tidak ada satu pun dari kami bertanya.
Saya cukup menikmati materi materi yang diberikan oleh beliau. Karena kami bukan diberikan materi jurnalistik saja, tetapi berbagai macam. Tetapi yang masih berkaitan dengan jurnalistik.

Beliau juga memberikan kami pesan pentingnya menulis, jika kami memang suka menulis maka akan mudah dan tidak merasakan beban. Maka dari itu juga beliau memberikan kami tugas menulis kejadian-kejadian yang kami lalui mulai dari pembukaan pelatihan jurnalistik tingkat dasar sampai bertemu dengan beliau.

Dan di sinilah saya menulis semua kejadian yang saya alami mulai dari telat datang ke acara lalu bersalawat, makan makan buah dan bertemu beliau di sudut warung kopi. Beliau juga mengatakan, terbuka untuk membahas apapun di warung kopi. Hal itu salah satu yang saya senangi dari beliau karena orangnya terbuka.




Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter