Pelita Gelar Seni Nusantara untuk Toleransi


Hari Toleransi

inidata.id - Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang bakal menaja Pagelaran Seni Nusantara . Kegiatan untuk memperingati Hari Toleransi Internasional  itu akan ditaja di di GPIB Immanuel (Gereja Blenduk) Jln. Letjen Suprapto No. 32 (Kota Lama) Semarang, Sabtu (30/11/2019), mulai Pukul 18.30 WIB – selesai.

Menurut Koordinator Pelita Budi Setiawan , kegiatan ini sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya toleransi dalam hubungan berbangsa dan bernegara. 

“Kesadaran tentang prinsip-prinsip toleransi harus terus ditingkatkan agar kita mampu menghormati budaya, agama dan kepercayaan, serta tradisi Nusantara yang amat kaya,” ujar Romo Budi dalam pesan digitalnya.

Hari Toleransi Internasional sendiri, lanjut Setiawan,  diperingati setiap tahun pada 16 November. Peringatan ini dilakukan satu tahun sekali dan dideklarasikan pertama kali oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Melansir laman United Nations, Hari Toleransi Internasional diperingati untuk meningkatkan kesadaran tentang prinsip-prinsip toleransi. Selain itu, untuk menghormati budaya, kepercayaan-kepercayaan, tradisi-tradisi, dan memahami risiko-risiko yang disebabkan oleh intoleransi.

Dalam gelar pentas seni Nusantara ini, papar Budi Setiawan, akan dibuka diawali pesembahan suguhan musik rebana dan tari Sufi dari PMII rayon Gus Dur UIN Walisongo, Semarang. Kemudian, baru dibuka dengan pembukaan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Selanjutnya, sambutan dari tuan rumah Majelis Jemaat GPIB “Immanuel” Semarang dan sambutan Walikota Kota Semarang Hendrar Prihadi sekaligus membuka kegiatan ini. 

“Setelah acara resmi dibuka, maka akab berlangsung pergelaran seni nusantara, yang bertujuan untuk memperkokoh silaturahmi dan toleransi antar warga Semarang,” titur Romo Budi.

Dalam pergelaran ini, akan tampil unjuk kebolekan, rinci  Setiawan Budi, vocal grup (Vitalent,Yayasan Panti Asuhan Katolik semrang),  drama tari (Persatuan Warga Sapta Drama-Kbupaten Semarang), puis (Himpunan Mahasiswa Budhis Indonesia - Kota Semarang)i, tari (Perhimpunan Mahasiswa Hindu – Kota Semarang), paduan suara (GPIB Se- Kota Semarang) , refleksi kebangaan (Ustadz Khoirul Anwar (UKA) M.Ag, musik etnik- Five (Unika Soegijapranata), rebana dan tari sufi (PMII Rayon Ushludidin  UIN Walisongo Semarang)  dan ditutup dengan  menari maumere bersama.

“Dalam kesempatan ini, Ustadz Khoirul Anwar dari  Pondok Pesantren At – Taharruriyah Semarang akan menyampaikan refleksi kebangsaan dengan tajuk; Perana Pemuda Lintas Agama dalam Merawat Kebangsaan,” ujar Romo Budi.

Sejarah Hari Toleransi Internasional

Pada ulang tahun ke-50 UNESCO, 16 November 1995, negara-negara anggota UNESCO mengadopsi Deklarasi Prinsip-Prinsip Toleransi.Deklarasi tersebut mengajak orang-orang untuk memperingati hari internasional ini.Tujuannya, lebih mengedukasi orang-orang tentang nilai-nilai toleransi.

Deklarasi ini menegaskan toleransi bukanlah perbedaan. Toleransi adalah bentuk penghormatan dan apresiasi kepada kekayaan budaya yang ada di dunia dan bentuk ekspresi sebagai manusia. Toleransi mengakui hak asasi manusia secara universal dan kebebasan fundamental antar manusia satu dengan lainnya.

 Secara alami, orang-orang berbeda satu sama lainnya. Oleh karena itu, hanya toleransi yang dapat memastikan keberlangsungan masyarakat yang beraneka ragam di seluruh dunia. Deklarasi ini menyoroti toleransi bukan hanya sebagai tugas moral, tetapi juga prasyarat politik dan legal bagi individu, kelompok, maupun negara.

 Deklarasi tersebut menempatkan toleransi dalam hubungannya dengan instrumen-instrumen hak asasi manusia internasional yang disusun selama lima puluh tahun terakhir. Selain itu, deklarasi prinsip-prinsip toleransi juga menekankan bahwa negara harus membuat rancangan undang-undang baru jika diperlukan.Upaya ini dinilai harus diperhatikan untuk memastikan kesetaraan perlakuan dan kesempatan yang sama bagi semua kelompok ataupun individu di masyarakat.

Peringatan yang digagas oleh UNESCO ini juga berlatar belakang dari terjadinya ketidakadilan dan kekerasan, diskriminasi dan marginalisasi, yang merupakan bentuk umum dari intoleransi. Pendidikan toleransi yang diinisiasi melalui peringatan Hari Toleransi Internasional bertujuan untuk melawan pengaruh yang mengarah pada ketakutan dan pengucilan pada orang lain.

Selain itu, untuk membantu generasi muda mengembangkan kapasitas independen, pemikiran kritis, serta penalaran etis. Keberagaman yang ada seperti agama, bahasa, budaya, dan etnis bukan alasan untuk terjadinya sebuah konflik, tetapi harta yang memperkaya semua. Atas dasar deklarasi tersebut, 16 November diperingati sebagai Hari Toleransi Internasional setiap tahunnya. ( Ko Chris Tian)

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter