Pengkambing Hitaman Pemicu Perpecahan

Oleh: Sapto Nur Cahyo
inidata.id - Tidak ada yang bisa menghindar dari masalah. Karena masalah itu selalu datang silih berganti bagai  siang dan malam yang terus  datang.

Baik perorangan maupun kelompok, baik tua atau mudah. Tidak ada yang bisa menghindar, kecuali hadapi dan selesaikan. Apalagi negeri yang subur ini, suku bangsa yang berbeda-beda, serta agama yang juga berbeda-beda. Tentu tidak akan lepas dengan persoalan dan masalah yang terus datang.

Tapi beda halnya ketika seorang mahasiswa butuh masalah untuk bahan penelitian tugas skipsinya, mereka mencari masalah. Tapi pada intinya masalah yang mereka cari telah hadir di tengah-tengah masyarakat.

Seperti yang dikemukakan M. Maruf Abdullah (2015) dalam buku  Metode Penelitian Kuantitatifnya, yang menjelaskan bahwa masalah adalah kesenjangan yang terjadi antara yang seharusnya dan yang menjadi kenyataan. Jadi di dalam masalah itu ada gap (celah) sehingga membuat keadaan yang seharusnya tidak sama dengan yang menjadi kenyataan.

Begitu pula halnya dengan permasalahan yang dijadikan objek penelitian. Karena terjadi kesenjangan antara yang seharusnya dengan yang menjadi kenyataan, sehingga ada peluang untuk di teliti.

Bentuk apapun masalah dalalm persoalan tersebut, maka butuh kejernihan berfikir dalam menghadapi persoalannya, kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah.

Apapun itu, semuanya punya peran dalam bernegara. Tidak lepas dari itu juga, kedangkalan dalam berfikir dan memandang persoalan perlu diperhatikan. Karena hal itu akan mebuat substansi baru persoalan.

Ironisnya ketika persoalan muncul dari satu pihak yang melakukan, hanya karna perlengkapan atau status yang melekat pada pelaku menjadi pihak lain tercederai oleh pihak lainya yang mendokrin. Tentu hal semacam ini tidak baik untuk kita bumikan di  tanah yang beragam ini.

Tidak pantas jika korupsi yang hanya dilakukan oleh seorang pejabat, lalu kita katakan semuanya yang berejaz dan berdasi adalah koruptor. Betapa tidak etisnya hal itu  diungkapkan, akan banyak pihak yang tentu tidak akan terima.

Begitu juga ketika ada pelaku teroris atau kejahatan yang diperbuat dari seseorang yang berstatsus suku atau agama, lalu di cap semua suku atau agama yang bersangkutan seperti itu. Tentu itu sebuah pengkambing hitaman yang hanya memunculkan perpecahan.
Jika kambing Pak Sapto makan tanaman perkarangan tetangganya, maka Pak Sapto pemilik kambing tersebut yang bertanggung jawab atas hal tersebut. Bukan menyalahkan pemilik kambing lainnya, sementara kambing mereka terkurung dengan baik di dalam kandangnya.

Dokrin semacam ini yang akan memicu dan membuat perpecahan, hanya dengan melihat satu sisi lalu mendokrin yang lain. Tidak elok di negeri tercinta yang subur dan beragam hanya memandang persoalan dengan satu sisi.

(Sapto Nur Cahyo adalah aktivis pers mahasiswa Lembaga Pers Mahasiswa Warta dan juga mahasiswa FUAD IAIN Pontianak Prodi KPI)

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter