Homeschooling, Mengapa Jadi Pilihan Pendidikan Anak Mereka?

inidata.id - Velina Tiwel Prayitno baru berusia 5 tahun  putri  dari Wulan, tetapi sudah  bisa menjelaskan dengan lancar dan runut  tentang proses metamorfosa kupu-kupu hingga penyerbukan pada bunga.  Kecerdasan  bocah seusia anak PAUD itu terungkap dalam kegiatan “Ngobrol Santai Homeschooling dan Kopdar Member PHI” yang digelar Perkumpulan Home Schooler Indonesia (PHI) Simpul Kota Semarang , di Aula RB Bhakti Ibu, Jalan Jeruk  VII No.30, Sompok, Semarang, Jawa tengah, pada  Rabu (11/12/2019).

Wulan orang tua dari  Velina dihadapan para praktisi dan penggiat  Sekolah Rumah yang hadir  mengaku memilih jalur pendidikan informal Homeschooling untuk anaknya, alasannya, karena bisa tahu minat atau potensi anaknya kemudian menumbuhkembangkannya.  “Kita bisa kapan saja, di mana saja, dan materinya apa saja.   Kebetulan anak saya punya minat dalam bidang science seperti saya.  Jadi, biasanya ketika  jalan-jalan ke alam waktunya juga digunakan sambil belajar mengesksplor lingkungan, baik tentang tumbuhan ataupun hewan,” ujar Wulan.

Ketika di soal tentang sosialisasi anaknya yang ikut Homeschooling  dengan lantang Wulan  menjawabnya, kalau yang dimaksud sosialisasi adalah pergaulan, anaknya justru bisa bergaul dengan siapa saja.

“Kalau di sekolah formal anak saya paling bergaul dengan kawan-kawan dan guru dari lingkungan sekolah. Lihat saya anak saya bisa bergaul dengan siapa pun, lebih luwes, tidak minder dan takut, sambil menunjuk anaknya Velina yang sedang bermain dengan ceria bersama  anak-anak lain yang lebih besar, ” kata Wulan.

Sedangkan , Putri mengaku merasa mantap memilih pendidikan anak-anaknya dengan Homeschooling. Pasalnya, sebagai orang tua tentunya lebih banyak tahu potensi anaknya. Selain itu, saya juga punya visi lain, tentang pendidikan untuk anak-anak saya.

 “Dengan Homeshooling, anak saya bisa belajar apa saja. Anak saya bisa mengeksplor potensinya. Bisa dibayangkan umur 9 tahun anak saya sudah bisa bisnis kue brownis dan bisa membelikan oleh-oleh neneknya dengan uang yang dihasilkannya sendiri dari jualan kue. Ini juga yang membuat neneknya yang tadinya sempat khawatir pendidikan cucunya,  akhirnya setuju. Neneknya melihat kemampuan cucunya, belajar itu ternyata tak harus disekolah formal,” ujar Putri membagikan pengalamannya.

Hal senada juga diungkapkan  Koordinator  PHI Simpul Kota Semarang Lingggar, dalam schooling orang tua yang mengatur manajemen  pendidikan anak-anaknya bisa  flexibel tak tergantung ruang dan waktu. “ Masing-masing keluarga  punya cara tersendiri dalam mengatur pilhan materi, waktu dan tempat belajar,” ujar Linggar.

Tiur yang juga memilih jalur pendidikan Homeschooling untuk anaknya, mengatakan, beralasan sebagai orang tua yang dipercaya  dari yang Maha Kuasa merasa bertanggungjawab untuk pendidikan dan masa depan anaknya. “Karena saya dan suami yang diberi amanah dan kepercayaan dari Tuhan. Untuk pendidikan anak-anak sebagai orang tua kami yang harus berperan,” ujar Tiur.

Dalam kesempatan itu, Koordinator Nasional  PHI  Ellen Nugroho mengatakan, memang masih banyak yang belum tahu apa itu Homeschooling atau sekolah rumah. Di Indonesia  yang tergabung dalam wadah PHI ada 329 keluarga terdiri dari 707 anak yang tersebar diberbagai kabupaten dan kota yang memilih Homeschooling sebagai pilihan jalur pendidikannya.

Memang dalam Homeschooling aktivitas` belajarnya sangat beda.  “Homeschooling atau sekolah rumah adalah model pendidikan atau aktivitas belajar yang dilaksanakan di rumah atau di tempat lain selain di sekolah konvensional baik secara keluarga maupun komunitas dimana dilakukan pengaturan sendiri terhadap penyelenggaraan pendidikannya,” kata Ellen Nugroho.

Lebih lanjut, dalam Homeschooling, belajar bisa lebih intensif, karena didampingi  orang tua sebagai pengendali hanya konsentrasi dengan beberapa peserta didik. Sedangkan kalau dalam sekolah formal guru sebagai pengendali KBM mengajar puluhan siswa dalam kelas. Selain itu, imbuh Ellen, praktisi Homeschooling bisa bebas menentukan visi, materi dan waktu belajarnya.  Sedangkan, persoalan ijasah, ada yang tidak membutuhkan . Tetapi kalu membutuhkan pengakuan formal bisa mendaftar dan ikut ujian di PKBM yang ada.

 “Kendalanya para homeschooler tidak punya kartu pelajar, yang terkadang dibutuhkan untuk keperluan yang formal,” kata Ellen.

Dalam Homeschooling, lanjut Ellen,  setiap keluarga bisa menentukan  pilihan prioritas untuk pendidikan anaknya. Contohnya, dalam keluarga saya lebih menekankan pendidikan karakter, membaca banyak buku, melatih mandiri,  dan banyak berhubungan dengan komunitas. “Tetapi ada juga keluarga   yang memilih mendidik anaknya jadi atlet dan ada juga yang fokus ke bisnis,” ujar  wanita yang juga sibuk  bergiat di Ein Institut.e.

Ellen Nugroho berharap ke depan, pemerintah selalu melibatkan organisasi yang mewakili keluarga-keluarga pesekolahrumah sebagai stakeholder dalam merumuskan kebijakan apa pun terkait sekolahrumah.

“Sehingga hak-hak keluarga-keluarga pesekolahrumah  sebagai warga negara juga terakomodir,” kata Ellen Nugroho. (Ko Chris Tian)

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter