Kawal Demokrasi dengan Berekspresi

Oleh : AEM 
inidata.id - "Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar gerakan, ormas, atau golongan apapun."
Hidup Mahasiswa!

Soe Hok Gie (1942-1969)

Peran Birokrasi kampus ialah sebagai penentu demokratis atau tidaknya sebuah tatanan keorganisasian di lingkungan mahasiswa dalam perguruan tinggi, oleh karna itu seharusnya segala bentuk politik perlu dikesampingkan agar tidak terjadinya sebuah polemik.

Sebaliknya jika hal itu tidak bisa dilakukan maka demokratis kampus hanya akan menjadi isapan jempol saja. Sudah banyak contoh fenomena yang menimpa beberapa organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi. Hal tersebut tentunya menjadi gambaran bahwa hubungan mahasiswa yang berhimpun dalam sebuah organisasi kemahasiswaan dengan birokrasi kampus tidak “sehat”.

Tidak sehatnya birokrasi kampus akan mucul jika ada kepentingan organisasi lain yang di utamakan baik dari organisasi internal kampus maupun eksternal kampus, tidak sedikit orang sadar akan hal ini dan banyak pula orang yang pura pura tidak tahu serta bersifat bodo amat menyikapi ketimpangan demokrasi yang ada. Padahal banyak sekali hak seorang mahasiswa untuk ikut berperan mengawasi birokrasi kampus dan mencegah monopoli kekuasaan, maka dari itu apalah arti Agent of Change bagi mahasiswa jika tidak peduli dengan sekitarnya.

Mahasiswa sebagai pengawal keberlangsungan perguruan tinggi, serta pembentuk keharmonisan perguruan tinggi hendaknya mulai mengawal semua kegiatan yang ada di ruang lingkup kampus seperti pemilihan jabatan dalam organisasi kemahasiswaan hingga sistem kerja birokrasi kampus yang ada. Hal ini bisa dimulai dari menghindari cideranya demokrasi yang ada dalam perguruan tinggi.

Permasalahan yang bisa menciderai demokrasi di perguruan tinggi ialah tidak transparansi nya pemilihan jabatan dalam organisasi kampus mulai dari ruang lingkup kemahasiswaan seperti Himpunan Mahasiwa Program Studi (HMPS), Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (DEMAF), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Unit Kegiatan Khusus (UKK), Presiden Mahasiswa (PRESMA) hingga Senat Mahasiswa (SEMA).

Oleh karena itu, Pemilihan Jabatan dalam organisasi kampus yang tidak transparansi diibaratkan habis terang terbitlah gelap. Jika dalam proses penjaringan bakal calon ketua sampai dipublikasikan hingga banyaknya pamflet yang disebarkan melalui berbagai platfrom media sosial, tetapi pada saat penetapannya terkesan sangat tertutup. Hal inilah tentunya yang menjadi keresahan bagi masyarakat kampus dikarenakan kurang transparansi dalam demokrasi kampus.

Maka, tidak transparansi dalam sebuah demokrasi kampus akan mengakibatkan beberapa hal diantaranya, Rendahnya atau bahkan tidak adanya kepercayaan masyarakat kampus kepada pejabat kampus, Rendahnya partisipasi masyarakat kampus  terhadap berbagai kebijakan yang dibuat oleh pejabat kampus, Sikap apatis warga kampus dalam mengambil inisiatif dan peran yang berkaitan dengan kebijakan publik.

Muhammad Ulum insan pers yang mengelompokan hubungan mahasiswa kedalam dua bentuk permasalahan yang boleh dibilang bisa menciderai demokrasi di perguruan tinggi, yakni  mengenai pembatasan berekspresi dan pembatasan mimbar akademik.

Dalam pembatasan berekspresi telah banyak sekali kasus yang terjadi menimpa organisasi mahasiswa khususnya Lembaga yang bersifat independen tidak mempunyai ikatan dengan organisasi lain yakni Lebaga Pers Mahasiswa (LPM). telah banyak kasus yang menimpa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang satu ini, diantaranya pada kasus yang menimpa LPM Lentera di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, LPM Aksara di Fakultas Ilmu Keislaman Universitas Trunojoyo Madura, dan LPM Warta di IAIN Pontianak.

Kemudian yang belakangan pernah booming di bebrapa media daring ialah kasus LPM Suara USU mengenai Cerpen LGBT Suara USU yang diberedel Rektor hingga pemecatan seluruh pengurus LPM Suara USU di Universitas Sumatra Utara (USU).

Maka dari itu, Kampus-kampus yang mengekang kebebasan berekspresi, mimbar akademik, dan membatasi transparansi dalam berdemokrasi, sama halnya memberangus komunitas ilmiah serta aspirasi yang telah dibangun oleh mahasiswa itu sendiri. (Penulis adalah Pemerhati Kecil)

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter