Parade Kebaya KDS 2019

inidata.id - Komunitas Diajeng Semarang (KDS) berkolaborasi dengan Kedai Tiga Nyonya dan POJcity Semarang menggelar event Parade Kebaya 2019.  Kegiatan yang ditaja dalam memperingati Hari Ibu 2019 ini dilaksanakan di Kedai Tiga Nyonya, Puri Anjasmoro, Semarang Jawa Tengah.

Dalam helat Parade Kebaya 2019 ini, selain di adakan kontes Pemilihan Ratu dan Puteri Kebaya 2019 Se- Jawa Tengah,  juga digelar parade kebaya, tarian kebaya,workshop kebaya, fashion show dan flashmob. Fashion show dalam ajang ini menaja kebaya-kebaya kekinian  karya desainer-desainer muda Kota Semarang yang kreatif dan Inovatif yaitu; Inge Chu, Stefanie Wang dan Widya Andhika.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu  mengatakan, pemerintah Kota Semarang  mengapresiasi dan berterima kasih pada semua pihak sehingga event penting ini. “ Pemkot Semarang berterima kasih kepada Komunitas Diajeng Semarang yang telah menginisiasi kegiatan Parade Kebaya Tahun 2019 ini,”  ujar Wawa yang akrab disapa  Mbak Ita ini.

Seperti dalam konsep bergerak bersama, yaitu, unsur pemerintah, penduduk, pengusaha dan pewarta  ibaratkan empat roda semuanya ikut bergerak maka laju kendaraan semakin cepat. “Maka dengan keikutsertaan warga nyengkuyung maka program pembangunan kota dalam hal ini pelestarian budayasebagai budaya asli Indonesia akan bertumbuhkembang kuat,” kata Mbak Ita.

Dalam kegiatan Parade Budaya ini, lanjutnya, ada pemilihan rang atu dan putri kebaya yang dapat mengenalkan kebudayaan asli Indonesia , yaitu Kebaya. Di samping itu dengan adanya kontes ini, makin membuat peserta lebih kreatif. Kita menyadari pemakaian kebaya menjadi jarang ditemui, biasanya hanya dipakai dalam acara seremonial seperti; pernikahan dan wisuda. “Padahal dulu kebaya  merupakan pakaian sehari-hari. Bisa-bisa nantinya para generasi milenial tidak mengenal  lewat buku dan museum. Jadi, kalau ada yang berpendapat negatif ini ajang pamer dan lomba kecantikan saya tak setuju,”.

Apalagi dalam gelaran Parade Kebaya ini, lanjutnya, ada rangkaian edukasi kepada masyarakat berupa workshop yang mendatangkan nara sumber dari Kasunan Gusti Kanjeng Ratu Wandansari.

”Kebaya bukan hanya sekadar pakain , namun juga sarat dengan makna dan filosofi khusus. Kebaya merupakan icon wanita Indonesia yang anggun dan berbudaya,” kataHevearita.

Ke depan, misalnya untuk memperingati Hari Kartini,  imbuh Wakil Walikota, bisa digelar event Kebaya Fashion On The Street  di Car Free Day (CFD), Jalan Pahlawan, ini tentunya akan lebih banyak melibatkan masyarakat, bisa jadi memecahkan rekor MURI lagi.

Sebelumnya, Ketua Panitia Parade Kebaya 2019 ,dalam laporannya mengatakan, sangat bangga dengan wanita-wanita Kota Semarang yang mengapresiasi kegiatan Parade Kebaya 2019 ini. “Kebaya yang merupakan kebudayaan asli harus terus ditumbuhkembangkan dan diperjuangkan, karena banyak negara lain yang juga  mengkalim kalau kebaya merupkan budayanya,” ujar Valentina.

Untuk itu, dalam kegiatan Parade Budaya ini, lanjut Valentina,  selain Pemilihan Ratu dan Puteri Kebaya KDS 2019,juga digelar edukasi berupa workhop, juga ada fashion, tari kebaya dan flashmob. “Bangga berkebaya perlu terus kita suarakan dan agar lebih memasyarakat,” kata Valentina.

Founder Komunitas Diajeng, Maya Diana K Dewi, mengatakan, kegiatan Parade Kebaya ini merupakan salah cara untuk merayakan kebaya. “Kami dari KDS tak hanya menselerbrasikan kebaya, tetapi juga punya komitmen menumbuhkembangkan dan melestarikan budaya asli indonesia kebaya dan yang lainnya, seperti jarik dan batik,”.

Jeng Maya sapaan akrab Founder KDS ini menambahkan, Komunitas Diajeng Semarang  juga ingin menjadi agen perubahan, terus bergerak untuk mengenalkan budaya dan kearifan lokal yang dimiliki bangsa kita.”KDS membukukan restasi 1000 orang berjarik yang dapat penghargaan rekor Muri. Kemudian November lalu, KDS mempromosikan jarik dan batik ke Singapura,” ujar Maya mencontohkan.

 Sementara itu, Gusti Mung, dalam workshop mengatakan, kebaya memiliki makna dan filosofi yang mendalam. Menurut Gusti Mung, kalau menilik sejarahnya  kebaya tak hanya dipakai oleh orang jawa saja

 Dicontohkannya, kalau belum bersuami tak boleh pakai kebaya panjang. Demikian juga tak sembarang orang boleh pakai kebaya berbahan beludru hanya boleh dipakai permaisuri. “Jadi semua itu dalam adat keraton ada tatanannya. Kalau dalam lingkungan keraton harus berpegang pada  adat dan tata cara yang berlaku,” kata Gusti Mung. (Ko Chris Tian)

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter