Serunya Nobar Wayang Orang “Ngesti Pandowo”

inidata.id - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan  (Kemendikbud) mengajak ratusan pelajar Semarang nonton barenga Pegelaran Wayang Orang “Ngesti Pandowo”. Pergelaran Wayang Orang yang mengusung lakon “Mahawira Sumantri” ini ditaja di Gedung Ki Narto Sabdo, Komplek Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang, Sabtu (21/12/2019).

Nonton bareng yang difasilitasi Kemendikbud  Dirjen Kebudayaan Direktorat Kesenian kerjasama dengan WO Ngeti Pandowo ini diikuti dewan guru, ratusan pelajar dari SMP Negeri 9 dan SMP Negeri 29 serta tamu undangan.

Kepala SMP Negeri  9 Semarang, Erna Listianti M.Pd, menyambut baik, program nonton bareng yang digelar Kemendikbud ini. Kesempatan baik, ini nonton bareng wayang orang ini merupakan salah satu langkah untuk mencintai budaya, dalam hal ini kesenian Jawa yang harus diuri-uri.

“Kalau bukan kita siapa lagi, yang akan merawat dan melestarikannya.  Pelajar sebagai generasi milineal, jangan sampai tidak mengenal budaya leluhurnya. Untuk itu, mari kita nikmati suguhan tontonan ini untuk lebih mengenal dan mempelajari wayang secara langsung tak hanya dari buku,” ujar Erna.

Hal senada disampaikan, Kepala SMP Negeri 29,  Kristianto dengan menonton secara langsung kita bisa belajar banyak karakter tokoh-tokoh wayang. “Contohnya Raden Sumatri adalah sosok tokoh yang penyayang dan juga tokoh  yang sejak muda menyiapkan masa depannya. Jadi Wayang tak hanya sekadar tontonan tetapi juga dapat juga dijadikan tuntunan,” ujar Kristianto.

Sementara, Ketua Paguyuban Wayang Orang “Ngseti Pandowo” Djoko Muljono, SH, mengisahkan kisah sejarah  perjalanan nya.

Djoko membeberkan, grup Wayang Orang “Ngesti Pandowo”  didirikan  1 Juli 1937 atau Kamis Pahing 21 Bakdha Mulud 1668 Wuku: Tambir, Tahun / Windu : Ehe/ Adi. Itulah tepatnya si jabang bayi Ngesti Pandowo mulai menghentak-hentak panggung wayang wong.

Tobong WO Ngesti Pandowo berkeliling ke kota di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah dan akhirnya menetap di Semarang.

Dari  hasil perjumpaan  antara pendiri Ki Sastro Sabdo dengan penabuh kendang Soenarto ketika lagi keliling di Klaten, akhirnya muncul gagasan untuk memperkuat wayang wong.

Bersatulah sang Soenarto penabuh kendang kemudian diberi tambahan nama Ki Narto Sabdo yang juga kemudian jadi dalang legendaris. Setelah melanglang pentas  di berbagai kota di Jawa, WO Ngesti Pandowo,  kemudian menetap di Semarang. Genap sudah 82 tahun Wayang Orang “Ngesti Pandowo” berkiprah.

Ketua Wayang Orang (WO) Ngesti Pandawa, Djoko Moelyono, SH, menambahkan, ketenaran Ngesti Pandawa sekitar tahun 1960-an dibuktikan dengan seringnya diundang ke Istana jika ada tamu negara.“ Ngesti Pandawa terkenal dengan trik malihan, silih rupa, kemudian setanan. Kemudian juga adegan Gatot Kaca terbang,” katanya saat ditemui di TBRS.

Dulu yang menjadi magnet WO Ngesti Pandowo para pemainnya bukan hanya orang jawa, tetapi juga pernah melibatkan orang Belanda dan Tionghoa.WO Ngseti Pandowo pernah  mengadakan gebrakan unik dalam pentasnya. Tokoh Werkudoro diperankan orang Belanda, sehingga benar-benar tinggi, gagah dan berwibawa. “Jadi bila pada era modern ada pentas dengan pemeran gabungan ras, bukan hal baru. Hal itu sudah dilakukan Ngesti Pandowo sejak dulu,” ujar Djoko Mulyono.

Dia menambahkan, bahkan beberapa kali saat Presiden Soekarno kunjungan ke Semarang sempat melihat Ngesti Pandawa pentas di GRIS Jalan Pemuda, yang saat ini menjadi Paragon Mal.

Berkat kesetiannya dalam berkiprah dan secara konsiten menumbuhkembangkan, merawat dan melestarikan kesenian wayang orang di Semarang, Ngersti Pandowo mendapat apresiasi berupa penghargaan berupa piagam “Wijaya Kusuma” diberikan pada tanggal 17 Agustus 1962. Penghargaan dan apresiasi dari Presiden Republik Indonesiaberdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1960.

Sejak era tahun 1940-an, Ngesti Pandowo, menggelar pentas di Kota Semarang. Kini  Grup Wayang Orang Ngesti Pandowo telah  menjadi salah satu  ikon budaya Kota Semarang. Bahkan kini Ngesti Pandowo yang telah memasuki usia 82 tahun menjadi salah  legenda budaya Kota Lumpia.

“Untuk itu, mari bersama-sama kita menguri-uri, merawat dan menumbuhkembangkan dan melestarikan Wayang Orang “Ngesti Pandowo”, yang menjadi salah satu ikon Kota Semarang. Ini Merupakan tanggungjawab kita semua,” kata Djoko Muljono.

Dirjen Kebudayaan Direktorat Kesenian Kemendikbud yang diwakili dari Bidang Pembinaan Tugas Kependidikan, dalam sambutannya, mengingatkan agar para pelajar  mencintai budaya leluhurnya. Dikatakannya, kehadiran teknologi seperti handphone bisa dibuat untuk hal-hal yang baik. Para pelajar bisa membuat konten budaya dengan membuat fil pendek berdurasi  2 menit.  Atau ikut memperkenalkan budaya warisan leluhur lewat you tube.

“Jadi para pelajar jangan menonton Opa atau penonton film Korea. Untuk itu, nonton bersama ini bertujuan untuk mengenalkan budaya Indonesia agar para pelajar mencintai dan ikut merawatnya,” kata Iskandar Eko.

Pergelaran  wayang orang yang mengusung lakon “Mahawira Sumatri”  yang disutradarai Wiradiyo

Dengan narator Ki Margono dan  enata gending Sihanto Negro ini mengisahkan tentang kepahlawanan Raden Sumatri membela martabat negara. Kisahnya, Prabu Harjunasasra yang memimpin kerajaan Maespati mencari seorang pendamping untuk dijadikan permaisuri kerajaan. Kecantikan Dewi Citrawati membuat semua raja kesengsem dan ingin menjadikannya permaisuri.

Kemudian dia mengutus seseorang prajurit bernama Raden Sumantri untuk melamarkan Dewi Citrawati. Atas jasanya Raden Sumantri diangkat  menjadi seorang Mahapatih kerajaan Maespati dengan gelar Mahapatih  Suwanda.

Dipihak lain, Prabu Rahwana menginginkan Dewi Citrawati untuk dijadikan  persamisuri kerajaan Alengka. Keinginan Prabu Rahwana untuk mendapatkan Dewi Citrawati, membuatnya harus mengalahkan beberapa raja-raja yang turut melamar Dewi Citrawati.

Setelah dia mengalahkan para musuhnya, Prabu Rahwana harus melawan Raden Sumantri. Namun naas, perang yang terjadi antara dua kerajaan tersebut membuat Raden Sumantri gugur.

Dalam kegiatan yang dibabar Kemendibud yang dibabar dalam tajuk : Kegiatan Pelatihan dan Pentas Nonton bareng Kesenian Rakyat  Wayang Orang “Ngesti Pandowo” Semarang ini .

Menurut Djoko Muljono digelar latihan untuk para pemain untuk meningkatkan kapasitas permainannya.

Sedangkan sebelum pergelaran dimulai dilakukan pengenalan tokoh-tokoh wayang baik kepada pelajar maupun para guru yang dipandu tokoh gareng yang langsung membaur  di tengah penonton. Pada kesempatan pembukaan dan jeda dipandu oleh para tokoh punakawan Semar, Bagong, Petruk dan gareng digelar kuis untuk para pelajar. Kegiatan yang berlangsung sekira tiga jam nonton bareng Kesenian Rakyat Wayang Orang “Ngesti Pandowo” berlangsung sukses. ( Ko Chris Tian)

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter