Simponi untuk Dini

inidata.id - Pergelaran bertajuk: “Simponi  untuk Dini” dipersembahakan Bengkel Sastra  Taman Maluku (BeSTM) di Monod Huis, Kota Lama, Semarang, Jawa Tengaj.

Hujan yang mengguyur Kota Semarang, tak jadi alasan para saudara, sahabat  dan penggemar Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin , atau yang lebih dikenal dengan NH Dini untuk tidak melangkahkan kaki, untuk bersama menghadiri kenduri acara “Setahun Mengenang NH Dini”.

Bakda magrib, tuan rumah yang juga merupakan founder Bengkel Sastra  Taman Maluku, Sulis Bambang, mengajak para hadirin untuk bersama menyusuri kenangan. 

“Kepergian NH Dini bukan hanya keluaraga, sahabat, teman dan penggemarnya, tapi dunia sastra Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, bahkan dunia yang telah kehilangan seorang sastrawan yang masih produktif sampai akhir hayat,” ujar Sulis Bambang dalam prolognya.

Enggar Adi Broto, sahabatnya, mengajak sekaligus memimpin hadirin untuk mendedahkan doa bagi sastrawan kebanggaan Indonesia yang namanya sudah mendunia.

Usia mengirim doa, acara bergulir kembali dipandu, Sulis Bambang. “setahun rasanya, seperti kemarin sore saja. Kepergian NH Dini begitu tiba-tiba dan cepat. Lalu dia pergi meninggalkan kita semua, sangat tenang dengan senyum tipis di bibirnya,” kata Sulis.

Musikalisasi puisi bertajuk; “Kenangan” karya Sulis Bambang yang digubah Tendian Febriagazy, dan ditembangkan   kolaborasi BeSTM dengan Institut Karinding Nusantara dengan apik membangun suasana yang mamring. Disusul sebuah tembang bertajuk: “Lagu untuk Dini” karya Joshua Igo yang dibawakan Obi membuat suasana makin syahdu.

Untuk mengenang karyanya yang monumental  “Pada Sebuah Kapal”  dan “Tirai Yang Menurun” . Sulis Bambang menulis liriknya kemudian digubah Tendian Febriagazi  dalam musikalisasi  sastra novel Pada Sebuah Kapal”  dan “Tirai Yang Menurun”  yang ditembangkan oleh Dewi dan Yanti.

Yang berikutnya, Tendian Febriagazi, mengguabah “Komposisi untuk Dini” dalam denting harmoni instrumental piano. Permaianan piano yang dinamis dan penuh semangat , namun dalam rasa yang lembut sebuah persembahan ciamik Febrian untuk tokoh sastra dunia yang lahir di kota Lumpia ini.

Puisi bertajuk : “Sebuah Lorong Waktu”  karya Triyanto Triwikromo, yang didedikasikan sastrawan yang juga jurnalis ini  pada ulang tahun NH Dini yang ke-80 lalu. Puisi yang bagus ini diaransemen dengan indah Tendian Fabriagazi dan dibawakan oleh Yanti dengan ciamik.

Triyanto Triwikromo, pada kesempatan itu, mengatakan, bahwa sudah banyak yang dilakukan dan diberikan   NH Dini untuk dunia sastra Indonesia, terlebih khusus Semarang. Lalu apa yang sudah pemerintah dan kita perbuat?. NH Dini sudah lama dibiarkan dan sendirian dalam berjuang. 

“Apa hanya acara kenangan seperti ini yang bisa jadi sekadar basa-basi?. Dia pergi tidak membawa apa-apa, ” ujar Triyanto mengingatkan.

Ke depan, Triyanto juga berharap di kota Semarang ini ada nama jalan NH Dini. Kemudian juga ada  wisata yang kontenya tentang NH Dini. Seperti  di kota Praha ada wisata yang mengangkat Kafka sastrawannya.

“Wisatanya bisa saja berupa memasyarakatkan karya-karyanya atau napak tilas jejak tempat berkreativitas dan  berkarya,” kata Triyanto.

Memang tak ada pesta akhir. Taka ada pertemuan tanpa perpisahan.  Perpisahan selalu melahirkan banyak pertanyaan , walau sebetulnya kita semua tahu jawabannya. Lagu “Perpisahan”  yang diaransemen Tendian Febriagazy dari puisi karya Sulis Bambang ditembangkan dengan apik oleh Obi.

Pada pamungkas pagelaran, Tendian Fabriagazi mengaransir ulang musikalisasi “Puisi Berlabuh di Senja Jauh”, karya Djawahir Muhamad dibawakan Dewi.

Doa telah dilafazkan, musik dimainkan, lagu ditembangkan, puisi didedahkan  dengan  indah dan utuh menjadi sebuah “Simponi untuk Dini”  menjadi sebuah kenangan .

NH Dini memang telah pergi meninggalkan kita. Tetapi karya-karyanya akan terus hidup dan dibaca. NH Dini boleh tiada, tetapi dia akan terus dibicarakan. NH Dini adalah sastrawan kebanggan Semarang, kebanggaan Indonesia, bahkan dunia.

Seusai kenduri  bersama menikmati “Simponi untuk Dini’, para apresian pulang dengan menggembol kenangan yang berkelindan  di kepala.  Juga membawa oleh-oleh  sebuah buku : “Simponi untuk Dini “ terbitan Bengkel  Sastra Taman Maluku  (BeSTM) Semarang yang bekerjasama dengan Rua Aksara (Jogyakarta) yang berisi catatan untuk NH Dini  karya-karya sahabatnya;  Triyanto Triwikromo, Sulis Bambang, Enggar Adibroto, Ritawati Jassin Dr.dr Kusmiyati Tjahjon, DK, M.Kes, Handry TM dan Silvia Galikano (Ko Chris Tian)

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter