Pulang ke Masa Depan yang Bahagia

inidata.id - The Djausal Center menggelar Recako Budaya di Taman Kupu-kupu “Gita Persada”, Jalan Wan Abdurrahman, Kemiling, Bandar Lampung, Senin (20/1/2020).

Kegiatan yang ditaja dalam rangka Pra Launching The Djausal Center ini menampilkan Pidato Kebudayaan Umar Ahmad, Bupati Tulangbawang Barat (Tubaba).

Inisiator dan Founder The Djausal Center, budayawan Anshori Djausal, dalam sekapur sirih sambutannya,  mengatakan , perubahan merupakan hal  yang niscaya di  dalam kehidupan. 

Pergerakan berbagai aspek   kehidupan   yang   terus   menerus   berdapak   positif   terhadap  peradaban,    namun sekaligus memberikan tantangan bagi manusia untuk terus menerus menata kehidupan sosialnya.    Penataan  inilah  yang   terus  diupayakan  oleh   berbagai  elemen  yang   ada dalam struktur sosial masyarakat melalui pembangunan.

“Pembangunan dengan tujuan mulianya,  diakui telah membawa manusia pada suatu keadaan yang semakin memberikan kemudahan. Efektivitas dan efisiensi diberbagai hal dapat dirasakan oleh manusia pada saat ini. Tetapi juga, pembangunan ternyata telah   meninggalkan   residu     berupa   kesenjangan   ekonomi,   ketimpangan   social,ancaman kerusakan lingkungan, potensi krisis pangan dan energy, bahkan berpotensi mengakibatkan   manusia   menjauhi   kodratnya   sebagai   mahluk   sosial   dan   mahluk spiritual,” kata Anshori

 Secara   sosiokultural, kata Anshori,   pembangunan   sering   kali   abai   terhadap   kearifan   lokal.nPembangunan   dengan   pola   penyeragaman   terkadang   meninggalkan   nilai-nilai   yang inheren  berlaku  dalam  kehidupan masyarakat. 

Padahal  setiap  kesatuan  masyarakat memiliki   tatanan   yang   merupakan   ciri   dan   sistem  yang   dianutnya   sebagai   standar perilaku   pergaulan   bagi   keseimbangan   lingkungan   sosialnya   dan     keseimbangan lingkungan   alamnya. 

Semua   dampak   negatif   tersebut   tampaknya   diakibatkan   oleh pembangunan yang kehilangan orientasi.

“Menyadari keadaan demikian inilah, maka The Djausal Center digagas untuk hadir dengan mengusung   cara   pandang   yang   holistic   dalam  menyelenggarakan   pembangunan,” kata budayawan yang juga menggagas ikon Lampung Menara Siger.

Untuk itulah, kata Anshori Djausal, dalam Pra Launching The Djausal Center, menghadirkan, Bupati Tubaba, Umar Ahmad, yang dikenal punya gagasan genial dalam membangun daerahnya yang berlandaskan kearifan lokal dan budaya.

“Bupati Tubaba ini berhasil menjadikan budaya dan kearifan lokal setempat menjadi sebuah kawasan destinasi yang menarik dan men jadikan magnet daerah ini,” ujar Anshori.

Prinsip-Prinsip Menuju Tubaba

Dalam pidatonya, Umar Ahmad mengatakan,"Kami di Tubaba menyebut apa yang kami lakukan saat ini sebagai upaya pulang ke masa depan. Mungkin itu terdengar tidak lazim, tetapi karena ketidaklaziman itulah saya berada di sini, menyampaikan lagi apa yang terdengar tidak lazim". 

Ada dua hal yang dia sampaikan mengenai topik pulang ke masa depan. Pertama, memang bagi kami Tubaba adalah masa depan. Tentu saja Tubaba mempunyai masa lalu, sebuah situasi yang dijaga oleh para pendahulu kami dengan kearifan mereka—kearifan yang diperlukan pada zamannya.

Masa itu sudah berlalu, namun apa yang melekat di dalam kepribadian kami, di dalam cara kami bersikap, di dalam cara kami menyelesaikan masalah, atau cara kami berpikir, sebagian adalah warisan dari para pendahulu kami. Tubaba juga memiliki masa sekarang, yaitu kehidupan yang sedang kami jalani saat ini. Dan ia memiliki masa depan, sebuah tempat pulang, sebuah harmoni yang menjadi tujuan kami. Ia sebuah tempat yang nyata di dalam kesadaran kami, sama nyatanya dengan surga yang diimani oleh kebanyakan dari kita. Jadi, bagi kami, perjalanan menuju Tubaba adalah perjalanan pulang ke masa depan.

Apa yang kami lakukan hari ini akan menjadi tidak berarti jika kami semakin menjauh dari Tubaba. Kedua, masa depan adalah sebaik-baiknya tempat bagi kita untuk pulang, sebab kita melangkah bersama waktu, dan waktu tidak pernah berjalan ke belakang. Kita tidak mungkin bergerak ke masa depan dengan langkah mundur. Kepala kita akan pening jika kita melangkah ke depan tetapi dengan kepala selalu melihat ke belakang. Maka, sebaik-baiknya perjalanan adalah kita melangkah ke depan dan mengarahkan pandangan kita ke depan.

Jadi, bagi kami, solusi untuk masalah-masalah kita hari ini selalu berasal dari masa depan. Kita akan menemukan jalan terbaik dengan mengarahkan pandangan mata dan pikiran kita ke masa depan, ke tempat pulang yang kita tuju—ke Tubaba kita masing-masing,” ujar Bupati yang banyak dikenal seniman baik di Lampung  maupun di Jakarta, Bandung dan daerah lainnya, karena kiprah budaya di daerahnya.

Masa sekarang menjadi penting, lanjut Umar Ahmad, karena apa yang kita jalani saat ini, pola pikir dan kebiasaan kita sehari-hari, akan menentukan apakah kita nantinya tiba di Tubaba atau justru menjauhinya. Kami bertekat untuk memastikan semua individu bisa menjadi “layak Tubaba”, dan tiba di Tubaba pada akhir perjalanannya.

“Bagi kami, di situlah pentingnya kita bermasyarakat. Kita membangun kehidupan bersama untuk menjamin tiap-tiap individu, satuan terkecil penyusun masyarakat, bisa menikmati kehidupan yang berkah sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat,” kata Bupati Tubaba yang belum lama ini diundang untuk menyampaikan kebudayaan di Jatiwangi Art Factory (JAF) , Majalengka, Jawa Barat.

Perjalanan menuju Tubaba adalah pulang ke masa depan yang bahagia—yang sebenar-benarnya bahagia. Itu tujuan kami. Dan kami selalu menyebut apa yang kami lakukan hari ini adalah proses berlatih yang terus-menerus bagi tiap-tiap individu untuk menjadi “layak Tubaba.”

“Kami harus melatih diri secara sungguh-sungguh dalam upaya menemukan jalan pulang itu, dan masing-masing dari kami harus menyesuaikan perilaku, membangun perangai yang tepat, dan membangun nalar yang memadai untuk sampai ke sana,” ujarnya mengingatkan.

Peradaban selalu dibentuk oleh orang-orang yang bertanya, oleh orang-orang yang mencari masa depan, oleh orang-orang yang berusaha menemukan jalan menuju Tubaba masing-masing. Sebab, dengan bertanya, kita menunjukkan kesanggupan diri untuk memeriksa dan mengevaluasi apa-apa yang telah kita lakukan.

Standar tinggi mensyaratkan kami harus tekun bekerja, memiliki daya tahan, dan sekaligus ikhlas di dalam melihat hasilnya. Tiga prinsip itulah yang menjadi landasan bagi kami untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Kami menyebutnya NENEMO, singkatan dari NEMEN (tekun bekerja), NEDES (tahan banting), dan NEREMO (ikhlas).

“Dengan tiga prinsip itu, kami melatih diri, atau mendorong semua orang melatih diri, agar selalu melakukan segala sesuatu sebaik yang bisa kami lakukan, mampu bangkit lagi ketika jatuh, dan tidak memaksakan bahwa hasilnya harus seperti yang kami inginkan.  Kita membangun kehidupan bermasyarakat dengan dengan orang-orang lain, dan itu memerlukan keikhlasan. Tidak mungkin kita memaksakan setiap yang kita lakukan harus mendapatkan hasil seperti yang kita inginkan. Kita tidak ingin orang lain memaksakan sesuatu terhadap kita, kita tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain,” kata Umar Ahmad.

Selain tiga prinsip tersebut, imbuh Umar Ahmad, masyarakat Tubaba juga sedang melatih diri untuk tegak pada tiga prinsip lainnya, yaitu kesetaraan, kesederhanaan, dan kelestarian. Ini tiga prinsip penting yang akan menentukan apakah kami layak Tubaba atau tidak. 

Kesetaraan hanya dimungkinkan ketika institusi-institusi sosial bekerja beres, dan hanya bisa diwujudkan ketika setiap individu menjalani hidup secara nemen, nedes, dan neremo. Dalam kehidupan yang sederhana, kita tidak merusak perkawanan. Dalam kehidupan yang sederhana, kita tidak merusak kepercayaan orang. Dalam kehidupan yang sederhana, kita tidak mencederai amanah.

Di dalam kesederhanaan itulah kita baru akan benar-benar mampu menghayati kesetaraan. Dan dengan kesederhanaan semacam itu niscaya kita berhasil melestarikan hal-hal baik yang menjadi milik kita: alam, kehangatan sosial, dan sikap respek. 

“Apakah menjalankan hidup sederhana semacam itu mudah? Tidak. Kita telanjur pintar menumpuk alasan sebanyak-banyaknya untuk menjadi tidak sederhana, untuk merumitkan urusan-urusan kita sendiri. Karena itu, kita membutuhkan kerja keras, ketekunan, dan kesediaan melatih diri untuk menjadi sederhana dan mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari.  Dengan menyadari semua itulah kami sekarang ini melatih diri menuju Tubaba, pulang ke masa depan yang bahagia—untuk menuju Tubaba kita masing-masing,” kata  Umar Ahmad yang baru saja ditetapkan sebagai penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat dan Trophy dan Piagamnya akan diserahkan Presiden Jokowi Widodo pada peringatak Hari Pers Nasional 2020 di Banjarmasin, Kalsel, 7 – 9 Februari 2020 mendatang. (Ko Chris Tian)

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter