loading...
loading...

Ucapan "Sampah" Lurah Ini Berurusan dengan Aparat

inidata.id - Gara-gara ucapan "sampah" Lurah Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul dipolisikan oleh Kepala Urusan Perencanaan Desa Srigading Sulistiyantoro. Sulis resmi melaporkan ke Polres Bantul pada tanggal 1 Oktober 2019 dengan pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik.

‎Kuasa hukum Sulistiyantoro, Sunu Yulimawan mengatakan tindakan kliennya dilakukan berawal saat adanya rapat koordinasi (rakor) yang dihadiri oleh perangkat desa dan kepala dusun di Desa Srigading sebanyak 25 orang. Dalam pertemuan tersebut terlapor yakni Lurah Srigading, Wahyu Widodo mengucapkan kata-kata dihadapan peserta yang mengarah kepada terlapor adalah "sampah" dan harus dibersihkan dari kelurahan Srigading.

"Sebelumnya terlapor ( Lurah Srigading Wahyu Widodo) membuat status dalam WhatsApp "Kita harus membersihkan sampah yang ada di Srigading". Sampahnya beratnya 90 kilo, Jawa tulen bukan londo (bule)," ucap Sunu Jumat (17/1/2020).

"Kita rapat koordinasi klien saya menanyakan kepada pelapor siapa yang dimaksud dengan "sampah" itu apa? Dan terlapor mengatakan ya sampah itu kamu (terlapor)," kata dia.

Dengan adanya pernyataan tersebut kata Sunu, kliennya dengan perkataan "sampah" dihadapan orang banyak maka klien merasa tercemar nama baiknya. Sehingga memutuskan melapor ke polisi karena klien merasa manusia yang sempurna dan tak terima disamakan dengan sampah.

"Makanya kita melaporkan Lurah Srigading ke Polres Bantul dengan pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik," kata dia.

Sunu menjelaskan kliennya yang dahulu menjadi Kaur Keuangan karena dinilai menghambat pengeluaran uang sesuai keinginan terlapor karena kehati-hatiannya membuat kliennya disingkirkan dari jabatan sebagai Kaur Keuangan dan dipindah menjadi Kaur Perencanaan padahal hal itu tidak bisa dilakukan oleh seorang Lurah apalagi ketika menduduki posisi Kaur Keuangan melalui pemilihan langsung.

"Ya memang klien saya dari awal terlapor menjabat sebagai lurah Srigading memang tidak mendukung terlapor menjadi lurah sehingga berbagai cara ditempuh untuk memecat klien saya. Bahkan sudah ada surat peringatan sampai 5 kali dan ada surat pemecatan sampai ke Camat namun Camat tak berani karena tak menemui dsar hukum yang kuat yang bisa memecat klien saya," kata dia.

Sunu mengatakan hingga saat penyidik dari Polres Bantul sudah memeriksa 11 saksi terutama perangkat desa yang hadir dalam rapat koordinasi tanggal 9 September 2019 silam.

"Hari ini terlapor (Lurah Srigading) juga dilakukan pemeriksaan oleh penyidik," ujarnya.

Lurah Srigading, Wahyu Widodo membantah tak pernah mengatakan pelapor seperti sampah.

"Yang jelas saya tidak pernah mengatakan Sulis (pelapor) sampah. Siap mengikuti proses pemeriksaan dari polisi," kata dia.

Wahyu mengaku sudah memberikan surat peringatak ke 3 terkait karena penggunaan anggaran dan jumlah cukup banyak dari desa. Bahkan dalam perkara tersebut sudah dilakukan mediasi yang melibatkan dengan melibatkan BPD.

"Jadi SP itu sudah lama dan sudah dimediasi dengan rekan-rekan BPD, membuat surat pernyataan dan disaksikan oleh Camat. Dalam surat pernyataan itu pelapor mengakui menggunakan uang dan siap mengembalikannya," katanya. (Rony)‎

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter