Status Quo, Lahan Sengketa Koperasi KPSA dengan RJP Dijaga Ketat

inidata.id - Puluhan anggota Koperasi KPSA Sawit Perkasa Mandiri terus melakukan aksi pemblokiran di lahan yang digunakan untuk perkebunan sawit PT Rajawali Jaya Perkasa (RJP) di Dusun Tanjung Wangi, Desa Rasau Jaya Umum, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (25/4/2020).

Aksi pemblokiran ini dengan cara membangun pos jaga di lahan yang disengketakan. Ilyas anggota Koperasi KPSA Sawit Perkasa Mandiri sebagai koordinator aksi mengatakan, aksi ini setelah ada penetapan lahan menjadi status quo oleh Kepala Desa Rasau Jaya Umum, Iwan Kurnia Putra.

"Pos jaga ini kami bangun setelah ada ketetapan status quo dari Kepala Desa Rasau Jaya Umum yang disaksikan Camat Rasau Jaya, TNI, Polri serta pemerintah kabupaten," kata Ilyas kepada  wartawan di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (27/4/2020).

Setelah pos jaga ini dibangun, nantinya akan dijaga setiap saat oleh anggota KPSA Sawit Perkasa Mandiri.

"Kami jaga siang malam. Karena, tiga kali aksi pemasangan baliho tanda blokir, tapi dilepas oleh oknum warga sekitar. Buktinya, baliho itu ada dipasang di rumahnya," kata  Ilyas.

Maka dari itu, kata Ilyas, pos ini terus dijaga. Agar tidak ada lagi aktivitas di lahan ini sampai ada penyelesaian dari kedua belah pihak. Termasuk menjaga agar tidak ada lagi upaya-upaya pengrusakan tanda pemblokiran seperti yang sudah terjadi sebelumnya.

"Kami akan terus jaga. Karena lahan ini tidak boleh ada aktivitas. Apalagi panen buah sawit. Jika ada yang nekad beraktivitas dan merusak lagi, maka akan berhadapan dengan kami. Karena kami akan terus memperjuangkan hak kami, sambil menunggu proses hukum di kepolisian," kata Ilyas.

Menurut dia, aksi pembuatan pos jaga sederhana ini juga sebagai bentuk dukungan terhadap Pemerintah Desa Rasau Jaya Umum.

"Kami terus berjuang sampai ada titik temunya," ujar Ilyas dalam pesan digitalnya .

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Desa Rasau Jaya Umum sudah menggelar mediasi terkait konflik sengketa kepemilikan lahan ini pada Senin (20/4/2020) lalu.

Dalam mediasi sengketa yang tak kunjung selesai sejak lima tahun belakangan ini, dihadiri Kepala Seksi (Kasi) Tata Pemerintah Desa DSPMD Kabupaten Kubu Raya Budi Mulyono, Camat Rasau Jaya Suhartono, Danramil 07/Kakap Kapten Arm Tri Yuliantoro, pihak kepolisian serta pihak terkait lainnya.

Dalam mediasi ini, pihak bersengketa yang hadir hanya perwakilan dari Koperasi KPSA Sawit Perkasa Mandiri. Sementara, pihak PT RJP serta Ali Basri CS tak hadir. Bahkan, sudah tiga kali diundang namun tak kunjung hadir.

"Sudah tiga kali diundang, namun pihak RJP dan Ali Basri tidak hadir," kata Kepala Desa Rasau Jaya Umum, Iwan Kurnia Putra.

Atas ketidakhadiran ini, PT RJP dinilai tidak memiliki itikad baik dalam penyelesaian konflik yang sudah berlarut lama ini. Dengan demikian, kata Iwan, karena kedudukan lahan itu di Desa Rasau Jaya Umum, maka pihaknya menetapkan status quo untuk lahan yang disengketakan tersebut.

"Masyarakat sepakat menyerahan semua ini ke pemerintahan desa. Saya maunya warga saya bersatu. Maka dari itu, atas aspirasi masyarakat, saya selaku kepala desa memuruskan untuk menjadikan lahan ini status quo. Tidak boleh ada aktivitas di sana. Terhitung mulai Rabu 22 April 2020, sampai batas waktu yang tidak ditentukan," kata Iwan.

Sehari setelah ada penetapan status quo ini, pihak PT RJP dikabarkan sempat menghadap Kepala Desa Rasau Jaya Umum. Namun, belum diketahui pasti tujuan pertemuan itu.

Sementara itu saat dikonfirmasi, HRD PT RJP, Ari masih belum bisa memberikan keterangan terkait penetatapan status quo dan aksi di lapangan. Pada intinya, kata Ari, komentarnya sama seperti sebelumnya. Bahwa, pihaknya siap hadir dalam mediasi jika formasinya lengkap. Yakni, jika Ali Basri CS juga hadir.

Untum diketahui, pihak Koperasi KPSA Sawit Perkasa Mandiri mengaku bahwa ada sekitar 143 hektar lahannya yang dirampas oleh Ali Basri. Kemudian 105 hektar lahan tersebut diserahkan ke PT RJP untuk bermitra dengan koperasi yang dipimpin Ali Basri pada 14 Januari 2015 lalu.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter