Punya Izin, PT SRM: Janganlah asal Melapor

inidata.id-Setelah sebelumnya pada 23 September 2020 PT. SRM (Sultan Rafli Mandiri) membuat laporan ke Polda atas kerusuhan yang berujung penjarahan pada 17 September 2020. Kini, PT. SRM bergerak di bidang pertambangan emas di Kabupaten Ketapang, Kalbar yang berganti dilaporkan ke Polda Kalbar.

Pengaduan ini dilakukan oleh Imran Kurniawan ke Direskrimsus Polda Kalbar pada Kamis 1 Oktober 2020 dengan nomor STTP (Surat Tanda terima Pengaduan)/518/X/2020/Ditreskrimsus.

Imran mengadukan PT. SRM atas dugaan tindak Pidana Pencemaran Lingkungan serta pelanggaran izin aktivitas pertambangan, dimana dugaan pencemaran lingkungan tersebut berimbas Kerusakan tanaman dan lahan milik pelapor.

"Pengaduan ini berkenaan dengan pelanggaran – pelanggaran yang telah dilakukan oleh PT SRM. yang kami laporkan meliputi pencemaran lingkungan,’’ kata Imran, Jumat 2 Oktober 2020.

Dia menyampaikan, PT. SRM telah melakukan pencemaran lingkungan dengan membuang limbah hasil produksi tambang ke aliran sungai yang digunakan masyarakat.

‘’Limbah ini dibuang, dan mengalir ke Sungai Begentak, Sungai Begentak itu adalah anak sungai Pesaguan, dimana di hilir sungai tersebut ada 3 desa, Desa Nanga Kelampai, Desa Jungkal, dan Desa kemuning Dirta,’’ujarnya dengan melampirkan sejumlah foto yang diklaim sebagai bukti pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT. SRM.

Selain melampirkan foto sebagai bukti, pihaknyapun melampirkan titik koordinat GPS, lokasi pembuangan limbah yang diduga sebagai milik PT. SRM.

Kemudian, iapun mengadukan PT. SRM atas dugaan melakukan aktivitas penambangan di luar IUP, dan iapun mengadukan atas izin usaha pertambangan milik PT. SRM yang telah habis masa berlakunya.

"Jadi 3 poin sudah kita buat pengaduan ke Ditreskrimsus Polda Kalbar," kata dia dalam pesan digitalnya.

Di sisi lain, menanggapi pengaduan tersebut, Kuasa Hukum PT. SRM, Wawan Ardianto kepada Tribun Pontianak menyampaikan bahwa pihaknya mengapresiasi atas pengaduan tersebut.

"Kita malah apresiasi atas hal tersebut, itu justru itu mekanisme yang bagus, itu mekanisme hukum yang bagus bagi setiap warga negara manakala merasa dirugikan, yang penting dalam laporan itu, harus ada bukti – bukti yang terkait itu," kata dia.

Kendati sudah mengetahui adanya aduan tersebut, namun hingga kini pihaknya masih belum di hubungi oleh pihak Polda Kalbar atas pengaduan tersebut.

"Baik Polda juga belum ada melakukan pemanggilan ke kita, hanya memang beberapa teman – teman pers yang menyampaikan hal itu ke saya," kata dia.

Terkait dugaan pelanggaran yang dilaporkan pelapor, Wawan menegaskan bahwa PT. SRM merupakan perusahaan resmi yang memilliki semua izin yang dibutuhkan, dan izin – izin tersebut dapat di verivikasi kebenarannya.

"Jadi tanggapan saya, kalau PT SRM dilaporkan karena menyalahi aturan saya malah senang, biar nanti silakan polisi yang memproses, tetapi kalau tidak punya bukti dan fakta dilapangan, janganlah asal melapor," kata dia.

"PT. SRM inikan PT yang legal, punya izin, tambangnya jelas, karyawannya juga jelas, saya rasa kalau terkait izin Amdal dan sebagainya, itu kita punya izin dan bisa diverivikasi, karena selama ini tidak ada masalah itu, masalah itu muncul setelah kita bikin laporan, mungkin nanti ada laporan apa lagi, apa lagi, saya tunggu saya, tetapi saya tetap konsen terhadap laporan polisi pada tanggal 23 September 2020 terhadap kejadian pada tanggal 17 september 2020," kata dia. 



Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter