• Selasa, 16 Agustus 2022

Mengenal Lebih Dekat Wanita Tangguh Pelestari Tengkawang Kalimantan Barat

- Rabu, 16 Februari 2022 | 14:33 WIB
Tengkawang adalah tanaman endemik khas Kalimantan Barat. Keberadaanya kini mulai redup karena tuntutan zaman.
Inidata.id - Sengatan matahari menyengat kulit kala siang itu. Dari kejauhan terlihat sesosok wanita. Kartini, nama lengkapnya. Ia adalah wanita berumur 44 tahun. Ia bersama warga Desa Nanga Yen gigih melestarikan keberadan Tengkawang.
 
Saat itu, ia baru saja pulang dari ladang. Tampak tergesa-gesa. Ini karena, ia memenuhi panggilan berkumpul segera bersama sejumlah kelompok warga Desa Nanga Yen, Kecamatan Hulu Gurung, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sebuah desa yang asri penuh dengan pohon nyaris punah, Tengkawang.
 
Tengkawang adalah tanaman endemik khas Kalimantan Barat. Keberadaanya kini mulai redup karena tuntutan zaman. Namun, siapa sangka, tumbuhan dengan latin Shorea stenoptera ini menyimpan kaya manfaat untuk kehidupan berkelanjutan dan memiliki nilai ekonomi tinggi.  
 
Tengkawang memang mudah tumbuh di pinggiran sungai. Tanpa dirawat pun, Tengkawang akan hidup dan berbuah tahunan.
 
Puluhan hingga ratusan pokok pohon Tengkawang dimiliki setiap warga Desa Nanga Yen. Selain itu, ada Tengkawang milik adat atau biasa disebut keloka. Satu pohon dari Tengkawang ini bisa berbuah hingga 200 kilogram. 
 
Tumbuhnya Tengkawang, sejak dari zaman nenek moyang mereka. Pohonnya menjulang tinggi di antara tumbuhan lainnya. Daunnya yang lebat hijau menjadi ciri khas Tengkawang. Indah ketika mata memandangnya.
 
Karena, bagi mereka Tengkawang memberikan kehidupan baru. Di tengah sulitnya ekonomi, Tengkawang menjadi penyelemat. Walaupun, berbuah Tengkawang di Desa Nanga Yen bisa empat tahun bahkan lima tahun. Namun, mereka tetap sabar menanti berbuahnya Tengkawang sambil beraktivitas ke ladang bercocok tanam.

Merawat Tengkawang Tidak Dipupuk, asal . .

Kartini bercerita, merawat Tengkawang tidaklah sulit. Tidak perlu dipupuk. Asalkan, dirawat dengan cara membersihkan tumbuhan yang liar di sekelilingnya. Saat sudah berbuah, warga Desa Nanga Yen mengolahnya menjadi butter Tengkawang. Mereka membuat dengan alat seadanya, berupa pengepresan yang terbuat dari kayu. Sistem kerja sama antar mereka adalah keharusan.

“Dari proses pembuatan dan cara pemeliharaan. Nah, dari sini bisa diadakan kerja sama antar kita,” ucap Kartini, mengawali cerita soal Tengkawang, baru-baru ini.

-
Kartini bercerita, merawat Tengkawang tidaklah sulit. Tidak perlu dipupuk. 
Kartini tidak sendiri. Dia dibantu emak-emak lainnya dan juga kaum pria di sana. Sebab, rasa kebersamaan antar warga di Desa Nang Yen sangat tinggi. Ini menjadi panutan dan pelajaran berharga. Tentu hal ini juga menjadi sistem pembelajaran bersama bagi siapa saja.
 
“Kadang kalau kita ambil sama-sama. Kalau perempuan sama perempuan ngambilnya dan ada pula laki-laki sama laki – laki.  Kalau yang mengelola Tengkawang itu kebanyakan perempuan,” ujarnya.
 
Kartini bercerita, sistem pengolahan buah Tengkawang ala kadarnya. “Kalau udah kita jepit, lalu kita masukkan ke dalam bambu. Laki-laki sama perempuan itu kerjaan nya sama untuk pekerja Tengkawang”.

Perhatikan Kelestarian Tengkawang

Kartini berkata, Tengkawang bisa juga dijadikan obat, jika ada anggota keluarga mereka yang tengah sakit. Misalnya saja, sakit demam, sariawan, dan rasa sakit lainya. Cukup dengan butter Tengkawang, rasa sakit itu akan hilang.
 
“Untuk dijadikan obat -obatan,” ucapnya yang pada saat itu ada warga membeli butter Tengkawang kepada Kartini seharga Rp10 ribu per batang ukuran kecil.
 
Kartini dan warga Desa Nanga Yen berharap pemerintah setempat maupun pusat dapat memperhatikan keberadaan Tengkawang. Karena Tengkawang, merupakan tumbuhan yang juga dapat menahan abrasi sungai di kala banjir tiba.
 
“Mudah - mudahan ke depannya bisa kita jadikan kosmetik dan keperluan lainnya. Karena kita sudah mulai membuat brownis dan kue –kue lainnya,” ucapnya penuh harap kepada pemerintah benar-benar memperhatikan keberadaan Tengkawang
 
Selain menjadi maskot alias ikon Provinsi Kalimantan Barat ini, Tengkawang menyimpan kaya manfaat yang belum digali secara menyeluruh. Oleh karena itu, pemerintah perlu memberikan peluang mata rantai nilai ekonomi secara luas. 
 
Bukan hanya sekadar tengkulak saja yang merasakan dampak dari bisnis penjualan buah Tengkawang. Namun, masyarakatlah yang menjadi pelaku utama membangun ekonomi masyarakat mandiri. Sebab, Tengkawang memberikan nilai ekonomi tinggi untuk ekonomi kerakyatan. Sudah seharusnya, pemerintah mempedulikan masyarakat dan melestarikan Tengkawang. Supaya tidak punah.

Wanita Tangguh Mentebah 

Desa Tanjung Intan, Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuas Hulu, itulah Ibu Inah menetap-- panggilan nama lengkapnya. Dia bilang, Tengkawang menjadi komoditi unggulan sekitar tahun 1980 hingga 1990.
 
Kala masa itu Tengkawang menjanjikan untuk kebutuhan ekonomi rumah tangga dan sekolah anak-anaknya. Dulunya, dia menjual ke Bunut Hilir dengan menggunakan motor bandung (motor air) dan speedboad (mesein tempel) untuk menemui tengkulak Tengkawang di sana.
 
-
Tengkawang milik adat atau biasa disebut keloka. Satu pohon dari Tengkawang ini bisa berbuah hingga 200 kilogram.
"Sistem penjualan ada yang pakai belet atau wadah untuk menakar Tengkawang mentah ada juga yang sistem kilo yaitu tengkawang yang sudah di salai," ucapnya mengingat masa kejayaan Tengkawang kala itu.

Tengkawang Diolah Jadi Lilin 

Dia menjelaskan, sedangkan untuk kebutuhan rumah tangga, biasanya diolah menjadi lilin untuk mencampur benang untuk menjahit, dan mentega untuk campuran memasak sayur, dan obat panas dalam.
 
Sebelum menjadi mentega (butter) bahan baku dari buah Tengkawang disalai alasannya hasil dari disalai baunya wangi dan enak untuk di memasak sayur-sayuran, kemudian buah tengkawang yang sudah disalai ditumbuk dan dikukus, setelah itu, diapit menggunakan alat apit sederhana dari kayu dan rotan agar lemak dari tengkawang terpisah. Agar tengkawang awet dan tahan lama, biasanya butter di simpan di dalam beras. 
"Selain awet baunya tetap wangi, warnanya tidak berubah, dan tidak berjamur," ujarnya menjelaskan.
-
Tengkawang memang mudah tumbuh di pinggiran sungai.

Tengkawang Komoditi Unggulan Masyarakat

Dia bercerita, secara ekonomi Tengkawang bisa menjadi komoditi unggulan masyarakat. Itu jika harga berpihak kepada petani dan berkelanjutan. Ini karena potensi Tengkawang cukup melimpah bahkan tidak terjual jika berbuah secara keseluruhan setiap pohonnya. 
 
Dari dulu hingga sekarang tumbuhnya Tengkawang masih secara alami, jika ada bibit yang sudah tumbuh sendiri maka akan disemaikan serta di tanam ke lahan-lahan yang masing kosong sela-sela karet, dan di lokasi kebun-kebun. 
 
Bibit tengkawang yang sudah ditanam dirawat dengan cara dibersihkan rumput di sekitar tanaman tersebut dengan cara gotong-royong. 
“Setiap kebun/kelokak masyarakat terdapat pohon Tengkawang," ucap Inah.

 

 

Editor: inidatalog

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X