• Sabtu, 28 Mei 2022

Menakar Kelestarian Tengkawang Kalimantan Bagian Barat

- Rabu, 16 Maret 2022 | 04:15 WIB
Tengkawang Kalimantan Barat bisa tumbuh dengan sendirinya di pinggiran sungai.  Alami. Tanpa dirawat,  tanpa dipupuk Tengkawang tetap subur.  (Foto: Inidata.id/Aceng Mukaram)
Tengkawang Kalimantan Barat bisa tumbuh dengan sendirinya di pinggiran sungai. Alami. Tanpa dirawat, tanpa dipupuk Tengkawang tetap subur. (Foto: Inidata.id/Aceng Mukaram)

Inidata.id - Ingatan Taufikson masih jelas membahas soal Tengkawang. Lelaki berumur 57 tahun ini merupakan warga Pengkadan, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Semasa kecil, ia bersama orangtua dan warga lainya di kampungnya yang terletak di Tintin, Riam Panjang, pergi ke hutan. Di sana, mereka memanen buah Tengkawang.

Letak rumah dan hutan tidaklah jauh. Warga yang sudah siap memanen tengkawang di hutan adat atau yang disebut keloka ini berbondong-bondong menuju ke hutan. Gong berbunyi. Sebagai tanda, bahwa panen raya buah Tengkawang telah tiba.

 Taufikson bercerita, Tengkawang di kampungnya hidup secara alami di pinggiran sungai. Tumbuh subur tanpa dipupuk dan dipelihara. Karena, tumbuhan dengan latin Shorea stenoptera ini memang mudah tumbuh di pinggiran sungai.

 “Tengkawang bisa tumbuh dengan sendirinya begitu di pinggiran sungai. Ditanam mungkinlah, ditanam memang secara alami,” ucap Taufikson di Kabupaten Kapuas Hulu baru-baru ini.

Lelaki yang hobi menulis di sosial media itu menuturkan, buah Tengkawang yang hanyut dibawa air aliran sungai tumbuh. Masyarakat di sana, membiarkan pohon Tengkawang secara alami.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Wanita Tangguh Pelestari Tengkawang Kalimantan Barat

 “Tapikan tidak langsung dibunuh oleh orang, ketika dijadikan ladang di pinggir sungai,” kata Taufikson.

Pada saat Tengkawang memiliki nilai ekonomi, warga di sana menjaga pohon Tengkawang. Baik itu yang memiliki pohon Tengkawang maupun yang adat. Saat beharga dan dibeli oleh oleh pengepul yang musiman. Ketika barang itu berharga jadilah milik adat. “Nanti dibeli oleh pengepul,” tuturnya. Saat panen raya tiba, warga pun sudah siap membawa perlengkapan pergi hutan.

 “Kami pagi baru boleh mengambil. Nanti ada suara gong, dipukul sebanyak tiga kali, tong, tong, tong, barulah orang berkumpul. Mukulnya di pohonnya kalau udah siap. Banyaknya se kampung, orang tua, anak-anak muda. Hampir ratusanlah,” kata Taufikson.

Halaman:

Editor: Aceng Mukaram

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kondisi Saat Ini Sungai Menyuke Landak Kalbar 2021

Kamis, 9 Desember 2021 | 11:49 WIB

Sejarah Sungai Menyuke Landak: Dulu dan Sekarang

Kamis, 9 Desember 2021 | 11:48 WIB
X