• Minggu, 29 Mei 2022

Desak Sahkan RPP Pelindungan ABK: Tiga Mantan ABK Indonesia Surati Presiden Jokowi

- Kamis, 7 April 2022 | 20:31 WIB
Tiga mantan ABK Indonesia pernah bekerja di kapal penangkap ikan berbendera asing menunjukkan berkas usai mengirimkan surat Keberatan Administrasi yang ditujukan pada Presiden Jokowi di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (7/4/2022). (Foto: Dhemas Reviyanto/Greenpeace Indonesia)
Tiga mantan ABK Indonesia pernah bekerja di kapal penangkap ikan berbendera asing menunjukkan berkas usai mengirimkan surat Keberatan Administrasi yang ditujukan pada Presiden Jokowi di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (7/4/2022). (Foto: Dhemas Reviyanto/Greenpeace Indonesia)

Inidata.id - Tiga mantan Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia yang pernah bekerja di kapal penangkap ikan berbendera asing mengirimkan surat Keberatan Administrasi yang ditujukan pada Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Surat ini berisi desakan kepada pemerintah agar segera mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Penempatan dan Pelindungan Awak Kapal Niaga dan Awak Kapal Perikanan–berikutnya disebut PP Pelindungan ABK.

Dalam surat tersebut pada Kamis, 7 April 2022 para ABK melalui kuasa hukum mereka, Viktor Santoso Tandiasa menyebut, pemerintah telah melakukan perbuatan melanggar hukum.

Baca Juga: Seni Budaya Pemersatu Bangsa di Kayong Utara, Ronny: Dukung Kearifan Lokal

Dia menegaskan, pemerintah semustinya merampungkan dan mengesahkan PP Pelindungan ABK dua tahun sejak UU No. 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia diundangkan.

"Itu artinya, sudah hampir tiga tahun pemerintah berdiam diri atas karut marut tata kelola perekrutan dan pengiriman ABK ke kapal asing," kata dia dikutip Inidata.id dalam keterangan resminya.

Lambannya sikap pemerintah dan kekosongan regulasi ini menyebabkan nasib para ABK Indonesia terus berada di bawah ancaman eksploitasi.

Dalam surat dijabarkan beragam kekerasan yang dialami ketiga mantan ABK selama bekerja di kapal asing.

Tak hanya kekerasan verbal dan fisik, mereka juga hidup tidak layak, kerja belasan jam dalam sehari, terisolasi, dan tidak menerima upah.

Halaman:

Editor: Maryadi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X